TASAWUF
Nama : Suyufi Marlina Siregar
Nim : 1920100339
PAI 4
Bab 1 Mengenal Identitas Tasawuf
A. Pengertian tasawuf
tasawuf adalah jalan menuju Tuhan. Kalimat memuat dua kata kunci penting, yaitu jalan dan tujuannya Tuhan. Sebagai jalan, tasawuf adalah salah satu jalan mengenal Tuhan. Jalan mengenal Tuhan bisa juga diartikan, jalan mendekatkan diri kepadaNya. Bisa juga maksudnya, metode sistematis untuk menuju Tuhan. Lebih teknis kelak dalam tasawuf dikenal dengan tarekat. Tarekat itu bagaikan organisasi yang memandu jalan menuju Tuhan.
Tarekat ini bisa juga diibaratkan dengan kendaraan menuju Tuhan.
Contohnya Tarekat Naqsabandiyah, punya sistem dan rute menuju Tuhan.
Tarekat Qadariyah juga punya sistem dan rute menuju Tuhan. Tarekat
Khalidiyah dan lain-lain juga punya sistem dan rute yang bisa saja ada
kesamaan dan perbedaannya antara satu dengan yang lainnya.
Tujuan bertasawuf sebagaimana dikemukakan Harun Nasution
adalah ―Menuju Tuhan‖. Terminal terakhir perjalanan itu adalah tempat di
mana bisa bertemu dengan Tuhan. Bertemu dengan Tuhan, jangan
dipahami secara fisik, walaupun ada yang berpendapat kelak di akhirat
orang yang masuk surga dapat bertemu denganNya. Karena tasawuf adalah konsepnya di dunia, maka bertemu dengan Tuhan dapat dipahami secara spiritual. Pertemuan spiritual dengan Tuhan bisa memungkinkan jika mengasah hati secara mendalam, sehingga ia menuju ruh, sirr, dan bahkan
lubb.
Semua kebaikan yang diperintahkan oleh Allah Swt. adalah upaya
dan bahkan jihad untuk mendekatkan diri kepadaNya. Hanya saja, ada
yang melakukannya tanpa kehadiran spirit (jiwa). Contohnya, sering kita
mendirikan salat, tidak mencoba berkomunikasi dengan Allah seperti berkomunikasi dengan manusia. Banyak orang mendirikan salat sekadar
gerakan dan bacaan saja. Dalam salat diharapkan kehadiran akal dan hati. Dalam bahasa tasawuf, melaksanakan salat diharapkan menggunakan
ketajaman akal, kedalaman hati (qalb dan fuâd), kehalusan rûh,
kelembutan sirr, dan kesatuan lubb.
Pengenalan epistemologis tentang tasawuf dikemukakan oleh
Mulyadhi Kartanegara. Ia katakan bahwa tasawuf salah satu cabang ilmu-
ilmu keislaman yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam.
Lebih lanjut Mulyadhi menjelaskan aspek spiritual menekankan aspek
rohaninya ketimbang aspek jasmaninya. Tasawuf lebih menekankan
kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia. Tasawuf lebih menekankan
aspek esoterik ketimbang eksoterik, dan lebih menekankan penafsiran
batin ketimbang penafsiran lahiriah.
Ada empat kata kunci yang perlu digarisbawahi tentang tasawuf
yang dikemukakan oleh Mulyadhi di atas, yaitu rohani, akhirat, esoterik,
dan penafsiran batin. Keempat kata kunci ini menjelaskan bahwa tasawuf
bukanlah wilayah empirik, orientasinya jangka panjang, dan untuk
memahaminya perlu pemikiran yang mendalam dan perasaan yang halus.
Tasawuf beraliran substantif bukan formalis. Dengan konsep ini,
sebagian orang ada yang latah mengatakan bahwa tasawuf tidak membutuhkan syariat. Tidak perlu salat asal kita baik, karena substansi
agama katanya untuk menjadi orang baik. Ini hemat saya adalah keliru.
Tidak perlu puasa, karena puasa adalah simbol, yang penting hatinya baik.
Ini pun keluar dari konsep tasawuf.
Dalam konteks salat contohnya, konsep aliran substantif tasawuf
hendaknya dipahami bahwa melaksanakan salat tidak cukup berhenti pada
ibadah gerak dan bacaan. Ibadah shalat hendaknya dilengkapi dengan ekspresi yang khusyuk bagaikan orang yang langsung berkomunikasi
dengan Tuhan. Ketika ingin melaksanakan salat, sikap psikologis tampil
dengan pakaian terbaik layaknya orang yang menghadap orang terhormat. Sikap seperti ini lah yang dilakukan oleh Imam Malik bin Anas.
Kalau ada orang yang mau bertanya tentang fiqh dan hadis kepada
Imam Malik, ia meladeninya di majelis atau di rumah. Ia tidak mau
ditanya membicarakan fiqh dan hadis disembarang tempat. Jika ada orang
yang bertanya tentang fiqh, Imam Malik berpakaian rapi, namun jika ada
yang mau bertanya tentang hadis, ia terlebih dahulu berwudu‘ dan
kemudian berpakaian rapi. Sikap itu dilakukan karena hormatnya pada
ilmu dan Nabi Muhammad saw., apalagi mau shalat.
Di sinilah kita bisa saksikan, semakin mendalam wawasan dan
perasaan bertuhan kepada Allah, maka durasi yang dibutuhkan untuk salat semakin lama. Hal ini berbeda dengan mengendarai mobil, semakin lama pengalaman sopir, maka semakin terampil dan cepat mengendarainya. Jika menjumpai orang yang salat cepat ―bagaikan kilat‖ patut diduga bahwa wawasan dan pengalaman bertuhan yang bersangkutan masih belum
mendalam.
Tasawuf mengutamakan akhirat dari dunia bukan berarti
meninggalkan dunia. Karena memprioritaskan akhiratlah, maka sikap sufi
dalam mencari kekayaan menjadi berkurang. Tidak dengan demikian
mereka mengingkari perlunya kekayaan. Kekayaan yang dipergunakan
untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. patutlah dipahami disetujui
oleh para sufi, walaupun itu bukan spesialisasi mereka. Dengan bahasa
lain, mendekatkan diri lewat kekayaan bukan ―job‖ tasawuf.
Jabatan pun bisa dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada
Allah Swt., tapi ini juga bukan job tasawuf. Contoh signifikan, atas
kebijakan siapa pun, di setiap SPBU ada fasilitas (musala) untuk
melaksanakan salat. Atas kebijakan itu, maka para musafir dimudahkan
dalam melaksanakan salat. Mereka yang membuat kebijakan itu, tentulah
yang memiliki jabatan tinggi, setidaknya di Pertamina.
B. Sejarah Tasawuf
Tasawuf sebagai gerakan apalagi disiplin ilmu belum lahir pada
zaman Rasulullah saw. Walaupun demikian, menurut sufi Imam Junaid,pada zaman dulu tidak ada tasawuf, tapi banyak sufinya. Sekarang banyak
tasawuf, tapi tidak ada sufinya. Artinya, zaman Rasul banyak pengamal
tasawuf, tetapi mereka tidak disebut sufi. Pendapat ini sejalan dengan
`Abdul Qadir Isa yang mengatakan bahwa sahabat dan tabi`in adalah sufi
yang sesungguhnya. Sekarang banyak orang berteori tentang tasawuf, tapi
tidak ada pengamalnya.
Tasawuf sebagai gerakan maupun institusi moral pada zaman Rasul
tidak ada dan tidak dibutuhkan menurut `Abdul Qadir Isa (2005: 7) karena
sahabat masih banyak orang yang bertakwa. Ungkapan ini dapat dipahami
bahwa kehadiran tasawuf di saat banyak orang yang menjauh dari jalan
Allah.
Kehadiran tasawuf sering dihubungkan dengan hadis yang populer
tentang ada tiga zaman terbaik sepanjang zaman, yaitu zaman Rasul,
zaman sahabat, dan zaman tabi`in.
خري اُيرون ىرين ٘ذا نةَّلي يًِٗ واَّلي يًِٗ
Artinya, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku (Rasul), kemudian zaman
setelah itu (sahabaat), dan zaman setelahnya (tabi`in)” (H.R. Bukhari dan
Muslim).
C. Komentar Ulama tentang Tasawuf: Pro dan Kontra
Orang-orang penting biasanya menarik didengar dan diperhatikan
pendapatnya. Dalam konteks Indonesia, dalam semua perdebatan, apalagi dalam kapasitas keilmuan tokoh, pendapat mereka sangat dinanti-nati.
Contohnya jika isunya tentang keislaman atau keindonesiaan, orang
menunggu komentar dari semisal Prof. Dr. Amin Rais, Prof. Dr. Din
Syamduddin, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dll.
D. Tasawuf Sunni dan Falsafi
Dalam kajian tasawuf umunya dikenal pembagian tasawuf sunni dan
tasawuf falsafi. Walaupun dalam konteks Indonesia saja ada yang dikenal
tasawuf modern yang dikemukakan oleh Hamka dan kemudian Nasaruddin
Umar juga menulis buku dengan judul yang sama. Tasawuf modern nanti
juga akan dibahas sekilas.
Tasawuf falsafi berangkat dari filsafat iluminasi al-Farabi.
Pandangan filsafat iluminasi tentang kewalian, kenabian, wahyu, mukjizat, dan karamah sama dengan pandangan tasawuf yang kemudian
digolongkan dengan falsafi. Konsep iluminasi kelak banyak digunakan
untuk merumuskan makrifat.
Menurut Ibrahim Hilal dari sisi aspek yang dibicarakan di atas,
antara tasawuf Suni dan tasawuf falsafi tidak berbeda. Untuk melihat
kedua aliran tasawuf ini akan diuraikan secara singkat.
Al-Farabi berpendapat bahwa pada puncak makrifat, kemampuan
menggunakan akal aktual sangat dibutuhkan. Akal aktual inilah yang kelak disebut oleh al-Farabi sebagai malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu kepada Rasul (Hilal, 2002: 49).
Konsep akal aktual (al-`aql al-fa``âl) logika penghubung antara sufi
dengan Tuhan, Yang Maha Mengetahui. Konsep logisnya jika dapat
berhubungan dengan Jibril, maka bisa berhubungan dengan Allah Swt.
Namun ini tidak dipahami secara teologis, tapi secara konsep makrifat
untuk dapat memahami kenapa sufi sering mendapat berita-berita gaib dan permohonan mereka sering dikabulkan oleh Allah secara instan,
pengetahuan mereka terhadap masa yang akan datang, terkadang tepat.
Komentar
Posting Komentar