logika filsafat dan saintifika

Nama : Suyufi Marlina Siregar
Nim : 1920100339
PAI 4

A. Logika filsafat
Logika filosofis atau bisa juga disebut logika filsafat, logika sebagai cabang filsafat.
Filsafat adalah kegiatan / hasil pemikiran /permenungan yang menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pasa makna dibalik kenyataan atau teori yang ada untuk disusun dalam sebuah system pengetahuan rasional.
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika sebagai cabang filsafat adalah cabang filsafat tentang berpikir. Logika membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat mengambil kesimpulan yang benar. Dengan mengetahui cara atau aturan-aturan tersebut dapat menghindarkan diri dari kesalahan dalam mengambil keputusan.
Menurut Louis O. Kattsoff, logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu dan kadang-kadang logika didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan. Logika bisa menjadi suatu upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Adakah metode yang dapat digunakan untuk meneliti kekeliruan pendapat? Apakah yang dimaksud pendapat yang benar? Apa yang membedakan antara alasan yang benar dengan alasan yang salah? Filsafat logika ini merupakan cabang yang timbul dari persoalan tentang penyimpulan.

B.Saintifika
logika saintifik adalah memban­tu mahasiswa (aktifis ilmu) untuk memahami, menguasai hukum- hukum dasar berpikir logis yang dapat diaplikasikan untuk berpikir ilmiah dalam rangka mendasari epistemologi dan metodologi keilmuan. Dengan demikian, mempelajari logika berarti mendasari diri dalam kandungan filsafat ilmu, karena sebagian dari kajian filsafat ilmu adalah epistemologi (cara memeroleh/sumber ilmu, batas-batas, validitas dan metodologi), yang seka­ligus –apabila dikembangkan lebih jauh—terkait juga dengan aksiologi (penetapan arah dan tujuan ilmu dan mengevaluasi dasar-dasar ilmu tersebut). Selain episte­mologi dan aksiologi, filsafat ilmu juga memuat ontologi (berbicara tentang hakikat ilmu).

Kaitannya dengan ontologi, epistemologi, dan aksiologi, logika memberikan dasar-dasar filsafat ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Dalam kaitan ini, aktifis ilmu akan diantar terlebih dulu oleh mata kuliah Epistemologi Ilmu secara umum, kemudian mereka akan mengapresiasi intisari dan esensi,sekaligus prosedur, metodologi, dan agresifitas ilmu pengetahuan yang bersangkutan dalam mata kuliah Filsafat Ilmu yang bersangkutan. Akan tetapi materi Filsafat Ilmu dalam kurikulum S1 pada sebagian perguruan tinggi belum diporsikan, karena materi Logika Saitifik dipandang cukup sebagai dasar.
Dalam hemat penulis, misalnya untuk materi komunikasi, terdapat perbedaan antara Filsa­fat Komunikasi dengan Filsafat Ilmu Komunikasi. Filsafat Komunikasi membahas esensi (hakikat) komunikasi sebagai kegiatan/proses penyampaian pesan. Sebagian materinya adalah hakikat unsur-unsur komunikasi. Sedangkan Filsafat Ilmu Komunikasi membahas hakikat ilmu komunikasi (ontologi), sumber, batas-batas, validitas, metodologi Ilmu Komunikasi (epistemologi), dan evaluasi atas produktifitasnya dalam transaksi antara produk Ilmu Komunikasi dan konsumennya (aksiologi).
Sebagai salah satu ilmu sosial, Ilmu Komunikasi mensyaratkan keharusan metodologi bagi dirinya sendiri –terutama pada objek forma (wilayah khas/spesifik)-nya. Sebab dengan metodologi itulah, sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, Ilmu Komunikasi dapat tampil dalam sosok ilmu yang khas yang tidak dimiliki oleh ilmu- ilmu lainnya.

Dalam arti konstruk logis, logika dalam Ilmu Komunikasi sangat penting posisinya sebagai dasar kemampuan untuk mentransformasikann conceptual world (dunia konsep) ke empirical world (dunia empirik). Tuntutan daya (power requirement) dan modal alur pikir (reasoning) semacam ini bertujuan untuk mencapai gradasi ilmu komunikasi menjadi objektif dan rasional ilmiah untuk memeroleh pengertian (understanding), kemampuan menerangkan (explanation), kemampuan meramalkan (prediction), dan daya kontrol (control power). Usaha transformasi ilmiah seperti ini mencerminkan kadar metodologis, sehingga peran metode ilmiah merupakan karaktaristik kunci dalam pembentukan kebenaran objektif Ilmu Komunikasi dan tetap didukung oleh peran deduksi dan induksi logis.10 Dengan demikian, peran logika dalam metodologi ilmu (termasuk Ilmu Komunikasi) adalah sebagai kontrol metodologis.
Sebagai kontrol metodologis, logika saintifik mena­warkan minimal tiga hal, yaitu: (1) menawarkan cara kerja secara logis dan sistematis, (2) melakukan kritik atas cara kerja tertentu; apakah cara kerja tersebut logis atau tidak, dan (3) menawaran pemecahan cara kerja sebagai konsekuensi kritiknya atas cara kerja tertentu.
Sebagaimana penjelasan di muka, oleh karena logika saintifik terkait dengan filsafat ilmu, maka dalam tulisan ini sengaja penulis tambahkan “bonus” tentang filsafat ilmu –meskipun hanya sekilas pengenalan—dan ditambah dengan sejarah ilmu dan model-model kemajuan ilmu, termasuk sketsa model-model kemajuan ilmu-ilmu keislaman.


Komentar